PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

Multimedia pembelajaran berbasis web merupakan perangkat lunak yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran. Salah satu referensi pengembangan perangkat lunak adalah pendapat pakar Software Enginering yaitu Roger S. Pressman. Menurut Pressman (2002: 38), rekayasa perangkat lunak mencakup tahap-tahap: analisis kebutuhan, desain, pengkodean, pengujian, dan pemeliharaan.
Salah satu model pembelajaran berbasis web dikembangkan oleh Davidson dan Karel L. Rasmussen (2006). Model yang dikembangkan oleh Davidson dan Rasmussen tersebut meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi.
Tahap analisis meliputi analisis masalah dan analisis komponen pembelajaran. Tahap desain meliputi desain pembelajaran dan desain software. Tahap pengembangan adalah merakit berbagai komponen desain pembelajaran dan software menjadi sebuah program pembelajaran berbasis web. Tahap implementasi terdiri dari implementasi sementara dan implementasi penuh. Sedangkan tahap evaluasi dibedakan menajdi evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Pengembangan desain pembelajaran untukweb based learning dirancang sedemikian rupa agar proses pembelajaran online tersebut dapat berjalan dengan efektif. Ada tiga elemen pokok yang harus ada dalam desain model pembelajaran berbasis web, yaitulearning tasks, learning resources, dan learning supportsLearning tasks mencakup aktivitas, masalah, dan interaksi untuk melibatkan peserta didik. Learning resources memuat konten, informasi dan sumber-sumber yang dapat diakses oleh peserta didik.Learning supports terkait dengan petunjuk belajar, motivasi, umpan balik, dan kemudahan akses bagi peserta didik.
Seiring  dengan  perkembangan teknologi  dan  banyak  sekolah  atau lembaga  pendidikan  yang  mulai mengembangkan  proses  pembelajaran menggunakan e-learning, maka banyak pula guru yang terdorong untuk mulai merancang dan mengembangkan proses pembelajaran  dengan  memanfaatkan sistem pembelajaran online di sekolahnya. Dipilihnya e-learning dalam pemecahan masalah  yang  berhubungan  dengan peningkatan kualitas pembelajaran pada mata  pelajaran  kimia  karena  dapat mempermudah interaksi antara peserta didik dengan materi pelajaran, demikian juga interaksi antara peserta didik dengan guru maupun antara sesama peserta didik baik dari segi situasi, kondisi, waktu maupun  tempat.  Hal  ini  dikarekan pembelajaran dengan e-learning ini tidak hanya dapat dilaksanakan di jam sekolah saja, tetapi bisa juga diluar jam sekolah.






A.      Definisi e-Learning 
            e-Learning atau pembelajaran elektronik, merupakan salah satu bentuk dari aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam kegiatan pembelajaran. Adapun definisi e-Learning menurut ahli :
“A broad combination of processes, content, and infrastructure to use computers and networks to scale and/or improve one or more significant parts of a learning value chain, including management and delivery.” (Adrich dalam Clark : 2010)
            Clark Adrich dalam bukunya yang berjudul “Simulations and the Future of Learning” menekankan definisi e-Learning pada kerangka berpikir penggunaan jaringan komputer. Ia menyatakan bahwa e-Learning merupakan sebuah kombinasi antara proses, materi dan infrastruktur dalam penggunaan komputer dan jaringannya dalam rangka meningkatkan kualitas pada satu atau lebih bagian signifikan dari aspek-aspek rangkaian kegiatan pembelajaran, termasuk di antaranya adalah aspek manajemen dan aspek pendistribusian materi pelajaran.
            e-Learning atau electronic learning merupakan pembelajaran yang disajikan secara elektronik dengan menggunakan komputer dan media berbasis komputer. Media komputer yang dimaksud di sini lebih berorientasi pada penggunaan teknologi komputer dan internet.
“E-Learning is a broad set of applications and processes which include web-based learning, computer-based learning, virtual and digital classrooms. Much of this is delivered via the Internet, intranets, audio and videotape, satellite broadcast, interactive TV, and CD-ROM. The definition of e-Learning varies depending on the organization and how it is used but basically it is involves electronic means of communication, education, and training.” (The American Society for Training and Development/ASTD: 2009)
Organisasi Masyarakat Amerika untuk Kegiatan Pelatihan dan Pengembangan (The American Society for Training and Development/ASTD) memberikan definisi umum yang lebih spesifik terhadap metode maupun media yang digunakan dalam proses e-Learning. Definisi ini dimuat dalam situs webabout-elearning.com. Definisi tersebut menyatakan bahwa e-Learningmerupakan proses dan kegiatan penerapan pembelajaran berbasis web (web-based learning), pembelajaran berbasis komputer (computer based learning), pendidikan virtual (virtual education) dan/atau kolaborasi digital (digital collaboration). Materi-materi dalam kegiatan pembelajaran elektronik tersebut kebanyakan dihantarkan melalui media internet, intranet, tapevideo atau audio, penyiaran melalui satelit, televisi interaktif dan CD-ROM. Definisi ini juga menyatakan bahwa definisi dari e-Learning bisa bervariasi tergantung dari penyelenggara kegiatane-Learning tersebut dan bagaimana cara penggunaannya, termasuk juga apa tujuan penggunaannya.  
            e-Learning merupakan sistem pembelajaran yang memanfaatkan media elektronik sebagai alat untuk membantu kegiatan pembelajaran, yang dalam arti luas mencakup pembelajaran yang dilakukan dengan media elektronik (internet) baik secara formal maupun informal. Secara formal misalnya berupa kurikulum, silabus, mata pelajaran, dan tes yang telah diatur sesuai jadwal oleh pihak-pihak terkait, yaitu pengelola e-Learning.
            Dengan e-Learning pembelajaran akan lebih menarik karena tampilan di layarnya bisa dibuat variatif yang menarik. Pembelajaran ini dapat juga disebut pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh Perguruan Tinggi dan biasanya perusahaan konsultan yang bergerak dibidang penyedia jasa e-Learning untuk umum. Sedang secara informal misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau web pribadi, dan perusahaan yang mensosialisasikan untuk masyarakat, dan biasanya jasa seperti ini gratis.
            Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pembelajaran elektronik (e-Learning) merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (internet, LAN, MAN, WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar elektronik lain.

B.       Fungsi dan Tujuan e-Learning
1.      Fungsi e-Learning
e-Learning sebagai suatu model pembelajaran yang baru memiliki beberapa fungsi terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction). Siahaan dalam Kamil (2010), memaparkan fungsi e-Learning tersebut sebagai berikut:
a.    Suplemen; Dikatakan berfungsi sebagai suplemen atau tambahan apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran.
b.    Komplemen; Dikatakan berfungsi sebagai komplemen atau pelengkap apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis: 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
c.    Substitusi; Beberapa perguruan tinggi di negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa.
c.
2.      Tujuan e-Learning
Tujuan e-Learning adalah untuk meningkatkan daya serap dari para pembelajar atas materi yang diajarkan, meningkatkan partisipasi aktif dari para pembelajar, meningkatkan kemampuan belajar mandiri, dan meningkatkan kualitas materi pembelajaran. Diharapkan dapat merangsang pertumbuhan inovasi baru para pembelajar sesuai dengan bidangnya masing-masing. e-Learning merupakan alternatif pembelajaran yang relatif baru untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dengan menggunakan berbagai fasilitas teknologi informasi, seperti teknologi komputer baik hardware maupun software, teknologi jaringan seperti local area network dan wide area network, dan teknologi telekomunikasi seperti radio, telepon, dan satelit. Salah satu bagian dari kegiatan e-Learning yang menggunakan fasilitas internet adalah distance learning, merupakan suatu proses pembelajaran, dimana pengajar dan pembelajar tidak ada dalam satu ruangan kelas secara langsung pada waktu tertentu; artinya kegiatan proses belajar mengajar dilakukan dari jarak jauh atau tidak dalam satu ruangan kelas. Hal ini memungkinkan terjadinya pembelajaran yang berkesinambungan, artinya pembelajar bisa belajar setiap saat, balk slang maupun malam hari, tanpa dibatasi waktu perternuan. Berbagai peluang tersebut diatas rnasih menghadapi berbagi tantangan baik dari kesiapan iqfrastuktur teknologi informasi, masyarakat, dan peraturan yang mendukung terhadap kelangsungan e-Learning. Dikemukakan juga sepintas mengenai peluang dan tangangan media e-Learning, seperti pada media voice mail, audiotape, audioconference, e-mail, online chat, web based education, videotape, satellite videoconference, microwave videoconference, dan cable atau broadcast television.

C.      Model-Model e-Learning
            Berdasarkan definisi dari ASTD, e-Learning bisa dibagi ke dalam empat model, yaitu:
1.    Web-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Web)
            Pembelajaran berbasis web merupakan “sistem pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi dengan antarmuka web” (Munir 2009:231). Dalam pembelajaran berbasis web, peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran secara online melalui sebuah situs web. Merekapun bisa saling berkomunikasi dengan rekan-rekan atau pengajar melalui fasilitas yang disediakan oleh situs web tersebut.
2.    Computer-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Komputer)
            Secara sederhana, pembelajaran berbasis komputer bisa didefinisikan sebagai kegiatan pembelajaran mandiri yang bisa dilakukan oleh peserta didik dengan menggunakan sebuah sistem komputer. Rusman (2009: 49) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis komputer merupakan “... program pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan software komputer yang berisi tentang judul, tujuan, materi pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.”


3.    Virtual Education (Pendidikan Virtual)
            Berdasarkan definisi dari Kurbel (2001), istilah pendidikan virtual merujuk kepada suatu kegiatan pembelajaran yang terjadi di sebuah lingkungan belajar di mana pengajar dan peserta didik terpisah oleh jarak dan/atau waktu. Pihak pengajar menyediakan materi-materi pembelajaran melalui penggunaan beberapa metode seperti aplikasi LMS, bahan-bahan multimedia, pemanfaatan internet, atau konferensi video. Peserta didik menerima mater-materi pembelajaran tersebut dan berkomunikasi dengan pengajarnya dengan memanfaatkan teknologi yang sama.
4.    Digital Collaboration (Kolaborasi Digital)
            Kolaborasi digital adalah suatu kegiatan di mana para peserta didik yang berasal dari kelompok yang berbeda (kelas, sekolah atau bahkan negara bekerja) bersama-sama dalam sebuah proyek/tugas, sambil berbagi ide dan informasi dengan seoptimal mungkin memanfaatkan teknologi internet.

C.      Kelebihan & Kekurangan e-Learning
            e-Learning memiliki kelebihan tersendiri bila dipandang sebagai sebuah alternatif untuk model pembelajaran konvensional. Lebih lanjut, Riyana (2007: 22) menyebutkan kelebihan-kelebihan tersebut sebagai berikut:
1.    Interactivity (Interaktifitas); tersedianya jalur komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous), seperti chatting atau messenger atau tidak langsung (asynchronous), seperti forum, mailing list atau buku tamu.
2.    2. Independency (Kemandirian); fleksibilitas dalam aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar dan bahan ajar. Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi lebih terpusat kepada siswa (student-centered learning).
3.     Accessibility (Aksesibilitas); sumber-sumber belajar menjadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian di jaringan Internet dengan akses yang lebih luas daripada pendistribusian sumber belajar pada pembelajaran konvensional.
4.    Enrichment (Pengayaan); kegiatan pembelajaran, presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai pengayaan, memungkinkan penggunaan perangkat teknologi informasi seperti video streaming, simulasi dan animasi.  

Adapun kekurangan e-Learning, diantaranya:
1.         Untuk sekolah tertentu terutama yang berada di daerah, akan memerlukan investasi yang mahal untuk membangun e-Learning ini.
2.          Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
3.         Keterbatasan jumlah komputer yang dimiliki oleh sekolah akan menghambat pelaksanaan e-Learning.
4.         Bagi orang yang gagap teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan.
5.         Materi tidak sesuai dengan umur pebelajar.
6.         Pemanfaatan hak cipta untuk tugas-tugas sekolah.
7.         Perkembangan yang tidak terprediksikan.
8.         Pengaksesan yang memerlukan sarana tambahan.
9.         Kecepatan mengakses yang tidak stabil.
10.     Kurangnya pengontrolan kualitas. 

D.      Proses Pengembangan e-Learning
            pengembangan sebuah aplikasi e-Learning hendaknya juga diarahkan agar mampu memenuhi empat filosofi e-Learning seperti yang dikemukakan Cisco dalam Rusman (2009: 198) sebagai berikut:
1.    e-Learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan dan pelatihan secara online;
2.     e-Learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi;
3.    e-Learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan;
4.    Kapasitas peserta didik amat bervariasi tergantung pada bentuk, isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar content dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas peserta didik yang pada gilirannya akan memberikan hasil yang baik.

E.       Pemanfaatan e-Learning dalam Pembelajaran
1.    Media berbasis komputer
Teknologi komputer mengalami kemajuan pesat dan luar biasa, baik dari segi hardware maupu softwarenya. Seiring berkembanganya program-program serta aplikasi yang dapat dipasang, komputer memberikan kelebihan dalam berbagai bidang kegiatan pembelajaran seperti untuk produksi media slide, media gerak dan media audio visual. Kiranya dalam era sekarang ini seorang pendidik haruslah mampu menguasai teknologi komputer, meski masih dalam taraf sederhana. Teknologi komputer sangat membantu dalam menciptakan berbagai kreatifitas produksi media pembelajaran, baik berupa gerak, audio maupun visual. Berbagai macam software yang dapat digunakan antara lain Power Point, Macromedia Flash, Movie dan lain-lain. Aplikasi-aplikasi tersebut dapat digunakan dalam berbagai materi pembelajaran baik eksak, sosial maupun materi agama selama seorang pendidik bisa menyusunnya sesuai kebutuhan dan target-target materi dan pembelajaran yang hendak dicapai, dan tentu tetap didasarkan pada pencapaian tiga ranah peserta didik berikut ini:
                    i.          Ranah Kognitif
Dalam pencapaian ranah kognitif komputer dapat digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep, prinsip, langkah-langkah, proses, dan kalkulasi yang kompleks. Komputer juga dapat menjelaskan konsep tersebut dengan sederhana dengan penggabungan visual dan audio yang dianimasikan.
                  ii.          Ranah Afektif
Ranah afektif bisa dicapai dengan menggunakan clip, film, suara atau video yang isinya menggugah perasaan. Peserta didik diajak untuk menghayati desain yang dibuat serta mengenalisis baik gambar atau suara.
                iii.          Ranah Psikomotorik
Ranah psikomotorik dapat dicapai dengan komputer dengan bentuk pembelajaran yang dikemas dalam bentuk games & simulasi sangat bagus digunakan untuk menciptakan kondisi dunia kerja. Beberapa contoh program antara lain; simulasi pendaratan pesawat, simulasi perang dalam medan yang paling berat dan sebagainya.

2.    Media berbasis internet
a.    E-Mail
Elekktronic Mail atau yang lebih dikenal dengan E-Mail yang dapat diartikan “Surat Elektronik”, merupakan surat yang pengirimannya menggunakan sarana elektronik yakni dengan menggunakan jaringan internet. Perlu diketahui bahwa pesan yang dikirim berbentuk suatu dokumen atau teks bahkan gambar, tentunya yang dapat diterima oleh komputer lain dengan sarana internet. Peserta didik dapat menggunakan e-mail untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan tugas, dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pendidik di luar kegiatan belajar mengajar, dan dapat berkomunikasi lewat e-mail dengan teman-teman, guru, maupun yang lainnya. 
b.    Blog
Istilah blog merupakan kependekan dari web blog. Jika diidentifikasi dari penggalan katanya web dan log dapat diartikan sebagai “catatan perjalanan” yang tersimpan dalam website. Blog dapat dijadikan website yang berisikan materi pelajaran yang dituangkan dalam bentuk tulisan, gambar, bahkan foto, maupun coretan warna warni yang membuatnya lebih menarik. Blog sebagai media pembelajaran setidaknya ada tiga metode yang bisa diupayakan yaitu:
1)   Blog guru sebagai pusat pembelajaran. Guru dapat menulis materi belajar, tugas, maupun bahan diskusi di blognya kemudian murid bisa berdiskusi dan belajar bersama-sama di blog gurunya tersebut.
2)   Blog guru dan murid yang saling berinteraksi. Guru dan murid harus memiliki blog masing-masing sebagai sarana mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya.
3)   Komunitas bloger pembelajar. Sebuah blog sebagai pusat pembelajaran dengan guru-guru dan siswa dari berbagai sekolah bisa tergabung dalam komunitas blogger pembelajar tersebut.
c.    Mesin Pencarian (Search Engine)
Search Engine adalah sebuah program yang dapat diakses melalui internet yang berfungsi untuk membantu para pengguna dalam mencari apa yang diinginkan, dengan kata lain search engine dirancang khusus untuk menyimpan katalog dan menyusun daftar alamat berdasarkan topik tertentu. Mesin pencarian ini dapat digunakan untuk mengakses berbagai bahan belajar dan informasi melalui media internet. Telah tersedia banyak situs search engine yang dapat digunakan untuk mencari informasi di internet, diantaranya Yahoo, bing, amazon.com, eBay, Wikipedia, Babylon, dan google. Tetapi yang sering kita gunakan adalah google, yang dapat diakses melalui http://www.google.com. Untuk melakukan pencarian informasi yang diinginkan, kita harus memasukkan kata kunci (keyword) pada kotak pencarian.

F.       Penerapan e-Learning dalam Pembelajaran
            Pembelajaran elektronik (e-Learning) telah dimulai pada tahun 1970-an. Kegiatan belajar yang bagaimanakah yang dapat dikatakan sebagai  e-Learning? Apakah seseorang yang menggunakan komputer dalam kegiatan belajarnya dan melakukan akses berbagai informasi (materi pembelajaran) dari internet dapat dikatakan telah dikatakan e-Learning?. Setidaknya ada 3 (tiga) hal penting sebagai persyaratan kegiatan belajar elektronik (e-Learning), yaitu :
a.     kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan (misalnya penggunaan internet)
b.    tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik, misalnya CD-Room, atau bahan cetak
c.     tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta didik apabila mengalami kesulitan.
            Di samping ketiga persyaratan tersebut masih dapat ditambahkan persyaratan lainnya, seperti adanya : (a) lembaga yang mengelola kegiatan e-Learning, (b) sikap positif dari peserta didik dan pendidik/tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet,    (c) rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari oleh setiap peserta didik, (d) sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta didik, dan (e) mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.
            Ada beberapa pertimbangan untuk menggunakan e-Learning dewasa ini, antara lain :
a.     harga perangkat komputer semakin lama semakin terjangkau (tidak lagi diperlakukan sebagai barang mewah).
b.    Peningkatan kemampuan perangkat komputer dalam mengolah data lebih cepat dan kapasitas penyimpanan data semakin besar
c.     Memperluas akses atau jaringan komunikasi
d.    Memperpendek jarah dan mempermudah komunikasi
e.     Mempermudah pencarian atau penelusuran informasi melalui internet.

Contoh e-learning dalam pembelajaran kimia
Bagaimana pembelajaran Kimia Polimer berbasis e-learning?
Sesuai dengan pengertian awam, e-learning yang dimaksudkan di sini adalah suatu pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer (intranet/Internet) dengan dukungan teknologi Web sebagai media deliveri materi dan komunikasi. Sistem pembelajaran ini dapat digunakan sebagai pendukung kegiatan belajar mengajar tatap muka maupun digunakan sebagai bentuk pembelajaran mandiri. Secara garis besar, teknis pelaksanaan e-learning dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:
(1) hanya menggunakan media Web biasa, dan
(2) menggunakan software khusus e-learning berbasis Web yang sering disebut dengan istilah learning management system (LMS).
Pada cara pertama, materi-materi pembelajaran disajikan pada sebuah situs Web. Siapapun dapat mengakses materi secara bebas atau dibatasi dengan password (seperti model langganan majalah/jurnal). Komunikasi bisanya dilakukan menggunakan e-mail atau forum diskusi khusus. Dalam hal ini biasanya tidak terdapat fasilitas portofolio, sehingga dosen tidak memiliki informasi siapa yang telah mengakses materi tertentu dan kapan akses dilakukan. Yang diperlukan untuk menggunakan pendekatan ini hanyalah sebuah server Web. Pada cara kedua, selain diperlukan server Web juga diperlukan sebuah software (LMS) yang berfungsi untuk mengelola e-learning.
Software (sistem) LMS biasanya mempunyai fasili- 7 tas-fasilitas yang berfungsi untuk
(1) administrasi mahasiswa,
(2) penyajian materi,
(3) komunikasi,
(4) pencatatan (portofolio),
(5) evaluasi, bahkan
(6) pengembangan materi.

Berbeda dengan akses ke Web biasa, akses ke LMS biasanya memerlukan nama user dan password, dan biasanya hanya dosen dan mahasiswa yang terdaftar yang dapat melakukannya. Sistem LMS akan mencatat semua aktivitas yang dilakukan mahasiswa selama mereka masuk ke dalam sistem e-learning. Gambar 3 menyajikan diagram arsitektur sistem e-learning berbasis LMS (diadopsi dari Kojhani, 2004).

Sistem e-learning terdiri atas beberapa komponen, yakni:
(1) komputer server yang dilengkapi dengan server Web dan sosftware LMS (learning management system) dan software pendukung lain,
(2) infrastruktur jaringan yang menghubungkan komputer klien ke server,
(3) komputer klien tempat mahasiswa dan dosen mengakses kelas online, dan
(4) bahan-bahan ajar yang disiapkan oleh dosen dan dimasukkan ke dalam kelas online.
Sesuai dengan model di atas, komponen-komponen yang diperlukan untuk membangun sistem e-learning meliputi:
(1) hardware server dengan spesifikasi yang memadai
(2) software untuk server: sistem operasi, server Web, dan server e-learning (LMS, learning management system), serta software-software pendukung lainnya (misalnya PHP, MySQL) (3) komputer klien dengan spesifikasi dan cacah yang memadai untuk akses ke sistem elearning secara online
(4) software-software untuk komputer klien: sistem operasi, browser Internet untuk mengakses server, software aplikasi dan authoring untuk mengembangkan materi pembelajaran oleh dosen dan mengerjakan tugas-tugas oleh mahasiswa
(5) infrastruktur jaringan LAN dan Internet yang diperlukan untuk mengakses sistem perkuliahan online.

Melalui sistem e-learning mahasiswa dapat membaca materi kuliah, mencoba demonstrasi dan simulasi, membaca tugas-tugas dan mengirim jawabannya, Infrastruktur Software Server E-learning Bahan ajar Server Web Mahasiswa/Dosen Infrastruktur Hardware 8 berkomunikasi dengan sesama mahasiswa dan dosen. Gambar 4 menyajikan model akses ke sistem e-learning. Setelah infrastruktur pendukung e-learning siap, langkah yang paling penting adalah melakukan persiapan dan melaksanakan kuliah online yang dipadukan dengan kuliah tatap muka. Di sini peran dosen sangatlah penting sebagai pengembang materi belajar dan fasilitator kegiatan pembelajaran. Sistem e-learning atau LMS hanyalah sebuah alat. Pemanfaatannya sangat tergantung pada dosen sebagai pengelola kelas. Dalam pengelolaan kelas secara online dosen harus menyiapkan bahan-bahan ajar yang akan disajikan secara online dan melakukan komunikasi secara online menggunakan fasilitas-fasilitas tersedia pada LMS.




Permasalahan :
1. Bagaimana cara kita memnimalisir kekurangan dari menggunakan media pembelajaran E- Learning?
2. Tujuan e-Learning adalah untuk meningkatkan daya serap dari para pembelajar atas materi yang diajarkan, meningkatkan partisipasi aktif dari para pembelajar, meningkatkan kemampuan belajar mandiri, dan meningkatkan kualitas materi pembelajaran. Tapi bagi Bagi orang yang gagap teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan. Nah menurut anda bagaimana sebenarnya penerapan e-learning ini sebaiknya bagi yang gagap akan teknologi?
3. Apakah dalam pembelajaran E-Learning guru masih berperan aktif dalam pembelajaran tersebut? Lalu, bagaimana jika sekolah yang tidak mempunyai sarana tersebut?


                                                 DAFTAR PUSTAKA

http://winarsih77.blogspot.co.id/2017/02/pengembangan-e-learning-dalam.html?m=1

http://dewisugiarti122.blogspot.co.id/2017/02/pengembangan-e-learning-dalam.html?m=1


http://mediakimiaunja.blogspot.co.id/2017/02/pengembangan-e-learning-dalam.html?m=1


http://halizaagusriyaniputri.blogspot.in/2017/02/pengertian-e-learning-e-learning-adalah.html?m=1


Komentar

  1. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no 1
    Dimana kekurangan dari e-learning yaitu diantaranya:
    1. Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu
    sendiri.
    Disini sebaiknya guru tidak terlalu bergantung dengan komputer, jadi hmguru ahrus tetap melakukan interaksi antar murid, maupun murid dengan murid
    2. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran menggunakan
    ICT.
    Disini guru dituntut agar tau menggunakan komputer, sehingga guru akan lebih mudah dalam menerapkan e-learning dalam pembelajaran
    3. Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
    Jika disini siswa tidak mengetahui cara mengelola komputer dengan baik tentu pembelajaran akan terhambat bahkan gag, sehingga diperlukan peran guru agar bisa mengajarkan siswa nya untuk menggunakan komputer
    4. kurangnya tenaga yang mengtahui dan memiliki keterampilan internet.
    5. kurangnya penguasaan bahasa komputer.
    4 dan 5 Disini guru dan siswa harus berlatih agar terbiasa menggunakan komputer sehingga proses belajar mengajar dapat berjumpa dengan baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas komentar anda, saya ingin mengkritik sedikit disini e-learning bukan berarti tidak melakukan tatap muka secara langsung, pembelajaran e learning ini tetap akan melakukan tatap muka secara langsung nantinya

      Hapus
  2. Saya akan menjawab permasalahan yang kedua, dimana jika kita cermati tentang perkembangan e-learning di Indonesia, sangat banyak kendala dan masalah dalam penerapannya dalam pembelajaran. Negara kita masih dibilang tertinggal dalam pengembangan e-learning dengan negeri jiran (Malaysia, singpura, brunei, dan Thailand) dalam dunia pendidikan. Bahkan bila dibandingkan dengan amerika, jepang, china korea dan negara-negara eropa lainnya, Indonesia sangat tertinggal jauh dalam hal pemanfaatan e-learning dalam pembelajaran.
    Lalu bagaimana penerapan e-learning bagi orang2 yang gagap teknologi?
    Kita harus kenali dulu apa teknologi itu, teknologi yang seperti apa yang akn di gunakan dalam proses pembelajaran. Setelah kita tahu maka akan mudah menerapkannya dalam proses pembelajaran. Hanya tinggal di kembangkan saja. Maka dari itu sangat perlu pemahaman awal tentang teknologi sebelum menggunakan e-learning.
    Kita harus sadar bahwa kita merasa tertinggal dengan bangsa lain yang sudah berlari lebih dulu dari garis star. Tapi bagi kita tak ada terlambat maupun kendala untuk mengejar. Jika pemerintah maupun sekolah tak menyediakan fasilitas yang memadai, pengajar dan siswa pun dapat memanfaatkan teknologi yang ada seperti handphone, warung internet, serta elektronik yang tersedia baik di sekolah maupun di rumah.
    Dengan memanfaatkan semua itu juga hakikatnya kita bisa menerapkan e-learning dalam belajar, sehingga informasi serta materipun tak hanya didapat dari buku dan di kelas, melainkan kita pun dapat mengakses informasi lebih banyak dari teknologi yang ada, bahkan kitapun dapat menyerap ratusan materi pelajaran dimapun dan kapanpun kita berada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadikan terlebih dahulu kita harus memberikan pemahaman terlbih dulu kepada siswanya mengenai teknologi dan e-learning itu, tidak bisa langsung kita kembangkan karena kan mereka masih gagap akan teknologi, nah stelah itu baru kita lakukan tes terlebih dahulu kepada siswa nya menggunakan komputer, dan setelah itu barulah kita coba terapkan pembelajaran e learning ini, jika sesuao dengan yang kita harapkan makan kita lanjutan metode ini, tapi tetap harus melakukan pembelajaran secara langsung agar siswa lebih mudah mengerti

      Hapus
  3. Saya akan mencoba menjawab permasalahan ketiga Dalam pembelajaran E-Learning guru masih berperan aktif, karena guru itu merupakan jembatan penghubung antara murid dengan pembeajaran e-learning tersebut. Tanpa ada yang menjembatani tidak mungkin murid dapat belajar menggunakan e-learning. Guru itu sebagai pengarah murid.
    Memang dalam kitab ta’lim muta’alim mengatakan bahwa guru itu s
    Jika murid tidak mempunyai aplikasi yang berupa 2D dan 3D, guru dapat menampilkan PPT sebagai sarana pengganti dari laboratorium dan virtual lab tersebut, atau bisa juga dengan menggunakan praktikum demonstrasi. Guru secara lagsung mempraktikkan didepan kelas supaya murid cepat paham dan tanpa memerlukan 2D dan 3D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya terimakasih kasih, e learning ini kan berguna jika gurinya tidak bisa melakukan pembelajaran tatap muka secara langsung pada hari yang bersangkutan tapi dikemudian hari akan tetap dilakukan tatap muka langsung.
      Jadi disini guru memang masih berperan aktif tapi siswanya tetap dituntut lebih aktif dari pada gurinya agar terlihat kreativitas dan kemampuan dari siswa tersebut

      Hapus
  4. Assalamualaikum saudari zelvi, saya akan mencoba menjawab pertanyaa nomor 3.
    Dalam menggunakan media e-learning, guru masih berperan aktif dalam proses pembelajaran. Mungkin memang interaksi antara guru dan siswa kurang dalam media e-learning ini.
    Tetapi, dalam media e -learning, guru masih mempunyai tugas untuk mengarahkan siswa. Guru masih harus memberikan ilmu awal untuk siswa, agar siswa bisa mempunyai gambaran tentang ilmu itu lebih dalam, dan agar siswa lebih mudah mengembangkan ilmu tersebut. Karena media e-learning ini di buat agar siswa dapat memperolah ilmu pengetahuan secara mandiri dengan lebih mendalam.

    Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itu tentu, guru disini memang memberikan penjelasan terlbih dahulu, tapi setelah itu harus ada umpan balik dari siswanya, jadi siswa disini juga diminta aktif agar terlihat kreatifitas dan kemampuan siswanya agar guru juga bisa meberikan penilaian yang tepat

      Hapus
    2. Sedikit menambahkan terkait apakah dalam pembelajaran E-Learning guru masih berperan aktif dalam pembelajaran tersebut? jawabannya Ya. Lalu, bagaimana jika sekolah yang tidak mempunyai sarana tersebut? Nah untuk menyikapi hal ini dibutuhkan perhatian dari kepala sekolah ataupun pemerintah pusat untuk dapat membiayai kelengkapan sarana dalam belajar. Namun pada zaman sekarang ini terkhususnya sekolah di perkotaan telah terpenuhi sarana/prasarana yang mendukung pembelajaran e-learning. Dan pembelajaran e-learning tidak semestinya harus dilakukan di dalam kelas sehingga siswa akan tertarik. guru juga dapat mengontol siswanya melalui video call.

      Hapus
    3. Nah bagaimana yang misalnya jika melakukan e learning melalui video call terdapat kesalahan misalnya jaringannya bermasalah? Nah tentu akan terhambat kan?
      Dan juga vidio call itu saya rasa tidak semua aplikasi video call bisa digunakan pada semua e learning

      Hapus
  5. saya akan mencoba menjawab pertanyaa nomor 3.
    Dalam menggunakan media e-learning, guru masih berperan aktif dalam proses pembelajaran. Mungkin memang interaksi antara guru dan siswa kurang dalam media e-learning ini.
    Dan siswa tidak memberi umpan balik yang diharapkan oleh guru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menirut saya siswa tetap memberikan umpan balik dari apa yang telah dijelaskan oleh gurunya, karena disini siswa bisa bertanya apa yang belum dipahaminya dan guru pun akan menjawab pertanyaan yang ditanyakan soswanya

      Hapus
  6. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no 1 .. menurut sya cara menimilasir nyaa adalah dengan adanaya partisipasi dari siswa trsbut dan kalau bisa...siswa trsebut tidak senggan untuk saling berbagi ide

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurit saya itu bukan cara meminimalisirnya tapi itu merupakan bentuk aktivitas dan diskusi abatar siswa

      Hapus
  7. dalam pembelajaran E-Learning guru masih berperan aktif dalam pembelajaran tersebut?Guru tetap harus aktif walaupun menggunakan elearnning karena jika bukan guru yang aktif siapa yang akan mengajak siswa tersebut untuk aktif dlm belajar..nah disini guru harus aktif terus dalam situasi apapun.

    BalasHapus
  8. saya akan mencoba menjawab permasalahan yang pertama, dimana menurut saya guru masih sangat berperan dalam e-learning karena guru berperan dalam menyampaikan materi, memberikan soal-soal dan mengevaluasi hasil belajar siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah jadi disini mbelajaran secara e learning ini bisa dikatan sama dengan belajar seperti biasa?

      Hapus
  9. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang pertama. Cara meminimalisir kekurang e-learning adalah :
    1. Meningkatkan interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu
    sendiri.
    2. Memprioritaskan aspek akademik atau aspek social dan
    sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis / komersial.
    3. Adanya tujuan pendidikan dari proses belajar itu.
    4. Mengubah metode konvensional dan dituntut mengetahui teknik pembelajaran menggunakan
    ICT.
    5. Meningkatkan motivasi siswa.
    6. Perlunya ketersediaan fasilitas internet, baik tenaga pendidik maupun mengembangkan bahasa komputer itu sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. motivasi yang sperti apa yang harus ditingkatkan?
      Karena kan kita tau sekarang siswa otu sangat susah untuk memberikan motivasi agar ia mau belajar

      Hapus
  10. bagi saya guru masih berperan karena guru yang mengirim materi dan karena guru juga terjadi interaksi dalam suatu grup

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi dalam e learning sistem nya masih sama sperti pembelajaran biasa?

      Hapus
  11. jawaban untuk permasalahan nomor 3
    Dalam pembelajaran E-Learning guru masih berperan aktif, karena guru itu merupakan jembatan penghubung antara murid dengan pembeajaran e-learning tersebut. Tanpa ada yang menjembatani tidak mungkin murid dapat belajar menggunakan e-learning. Guru itu sebagai pengarah murid.
    Memang dalam kitab ta’lim muta’alim mengatakan bahwa guru itu s
    Jika murid tidak mempunyai aplikasi yang berupa 2D dan 3D, guru dapat menampilkan PPT sebagai sarana pengganti dari laboratorium dan virtual lab tersebut, atau bisa juga dengan menggunakan praktikum demonstrasi. Gur secara lagsung mempraktikkan didepan kelas supaya murid cepat paham dan tanpa memerlukan 2D dan 3D

    BalasHapus
  12. untuk permasalahan yang pertama ialah dengan mengimbangi bertatap muka langsung karna secara online terkadang kurang efektif untuk beberapa siswa

    BalasHapus
  13. Dari permasalahan yang ketiga. Menurut saya, kalau guru telah memanfaatkan e-learning artinya guru tersebut bukan lagi menjadi pusat dari pembelajaran. Melainkan siswa yg harus aktif dalam mencari ilmu. Guru disini hanya berperan untuk mengelola kelas yang dibimbingnya.

    BalasHapus

Posting Komentar