Prinsip Dasar Multimedia Pembelajaran


Definisi Multimedia Pembelajaran


     Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafik, gambar, foto, audio, dan animasi secara terintegrasi. Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu: multimedia linear, dan multimedia interaktif. Multimedia linear adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial (berurutan), contohnya TV dan film.
Multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Contoh multimedia interaktif adalah: multimedia pembelajaran interaktif, aplikasi game dll.
     Sedangkan pembelajaran diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan memungkinkan terjadinya proses belajar. Jadi dalam pembelajaran yang utama adalah bagaimana siswa belajar. Belajar dalam pengertian aktivitas mental siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat relatif konstan. Dengan demikian aspek yang menjadi penting dalam aktivitas belajar dan pembelajaran adalah lingkungan. Bagaimana lingkungan ini diciptakan dengan menata unsur-unsurnya sehingga dapat merubah perilaku siswa.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam proses pembelajaran, dengan kata lain untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, ketrampilan dan sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan yang belajar sehingga secara sengaja proses belajar terjadi, bertujuan dan terkendali.


Dalam mengembangkan lingkungan belajar digital, multimedia telah menawarkan kesempatan belajar yang lebih kaya dalam rangka memenuhi kebutuhan siswa. Namun, karena pikiran manusia terbatas dalam memproses sejumlah informasi dalam satu waktu (Miller, 1956), multimedia tentu memberikan tantangan yang unik, seperti bagaimana efektifitas dan efisien multimedia terintegrasi dengan materi yang disajikan kepada siswa oleh guru. Banyak peneliti telah berfokus pada multimedia salah satunya Mayer (2001) dalam  Cognitive Theory Multimedia Learning (CTML) dan load Cognitif theory(teori beban kognitif) dari Sweller (1999) untuk mengatasi keterbatasan memori manusia dan mempromosikan proses kognitif yang lebih tinggi agar pembelajaran lebih bermakna (Tabbers, Martens, & van Merriënboer, 2004).
CTML Mayer didasarkan pada tiga asumsi proses kognitif pembelajaran (Mayer, 2001) yaitu: (a) Asumsi dual coding  untuk visual dan auditory (Paivio, 1986; Sadoski & Paivio, 2001), (b) asumsi kapasitas terbatas (Baddely, 1986; Chandler & Sweller, 1991), dan (c) Asumsi pengolahan aktif untuk melaksanakan satu set proses koordinasi kognitif (Mayer, 2001). Mayer menggambarkan bagaimana multimedia membangun representasi mental dalam arsitektur kognitif pada pelajar (Tabbers, Martens, & van Merriënboer, 2004). Menurutnya  pembelajaran yang bermakna terjadi ketika seorang pelajar memilih informasi yang relevan, mengatur informasinya itu ke dalam representasi yang koheren, dan informasi itu terintegrasi dengan pengetahuan sebelumnya.
Teori beban kognitif memilki ssumsi dasar bahwa arsitektur kognitif terdiri dari beberapa memori, termasuk memori kerja yang terbatas dan memori jangka panjang yang luas. Menurut Schnotz dan Kurschner (2007), keterbatasan memori kerja hilang ketika berhadapan dengan informasi dari memori jangka panjang, di mana informasi ini disusun dalam unit-unit yang lebih tinggi yang disebut skema kognitif. Namun, Sweller memperingatkan keterbatasan memori kerja manusia dalam beban memori berlebihan dapat disebabkan oleh penyajian elemen yang terlalu banyak (Mayer & Moreno, 2002). Dalam banyak jenis instruksi multimedia, diperlukan integrasi informasi dari saluran yang berbeda, sehinggga menyebabkan beban kognitif tidak semakin tinggi  (Tabbers, 2002).
Mayer dan rekannya menunjukkan tujuh efek desain multimedia dasar yang telah diuji secara empiris berdasaran prinsip-prinsip desain multimedia dasar (disebut sebagai multimedia efek desain) yangberguna dalam merancang presentasi multimedia (Mayer, 2001, hal 184). Tujuh prisnip ini meliputi:
  1. Siswa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar daripada kata-kata saja (multimedia principle)
  2. Siswa belajar lebih baik ketika kesesuaian kata-kata yang disampaikan dengan gambar yang disajikan berada lebih dekat daripada jauh dari layar (Spatial contiguity principle),
  3. Siswa belajar lebih baik ketika kata-kata yang sesuai dan gambar yang disajikan disajikan bersamaan daripada berturut-turut (Temporal contiguity Principle),
  4. Siswa belajar lebih baik ketika kata-kata, gambar, dan suara lebih dikeluarkan (Excluded) daripada dimasukkan (included) (Coherence Principle),
  5. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi daripada dari animasi dan teks pada layar “(Modality Principle),
  6. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi daripada dari animasi, narasi, dan teks pada layar “(Redundancy Principle), dan
  7. Efek Desain lebih berpengaruh pada peserta didik yang berpengetahuan rendah (low-knolwledge) daripada peserta didik yang berpengtahuan lebih tinggi (high knowledge) dan untuk pelajar yang memilki spasial yang tinggi dari pada spasial yang rendah (Individual difference Principle).

Prinsip-Prinsip Pembelajaran Multimedia
Rosch menyatakan bahwa multimedia adalah kombinasi dari komputer dan video. Sementara Mc. Cormick mendefinisikan multimedia sebagai kombinasi dari tiga elemen, yaitu suara, gambar, dan teks. Robin & Linda mengartikan multimedia sebagai alat yang dapat menciptkakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi, auido, dan gambar video (Suyanto, 2003: 5).Ade Cahyana dan Devi Munandar (2008) memberikan definisi teknologi multimedia sebagai perpaduan dari teknologi komputer baik perangkat keras maupun perangkat lunak dengan teknologi elektronik. Menurut keduanya sekarang ini perkembangan serta pemanfaatan teknologi multimedia banyak digunakan hampir di seluruh aspek kegiatan.
Dalam buku yang berjudul ”The Developers Handbook to Interaktive Multimedia”, Rob Philip (1997: 8) menjelaskan :
”The term ‘multimedia’ is a catch-all phrase to describe the new wave of computer software that primarily deals with the provisions of information. The ’multimedia’ component is characterized by the presence of text, picture, sound, animation and video; some or all wich are organized into some coherence program. The ‘interactive’ component refers to the process of empowering the user to control the environment usually by a computer.”
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa multimedia merupakan perpaduan dari beberapa elemen informasi yang dapat berupa teks, gambar, suara, animasi, dan video. Program multimedia biasanya bersifat interaktif.
           Prinsip multimedia berbunyi murid bisa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar-gambar daripada dari kata-kata saja (Mayer, 2009:93). Yang dimaksudkan dengan kata-kata adalah teks tercetak di layar yang dibaca pengguna atau teks ternarasikan yang didengar pengguna melalui speaker atau headset. Yang dimaksudkan dengan gambar adalah ilustrasi statis seperti gambar, diagram, grafik, peta, foto, atau gambar dinamis seperti animasi dan video. Clark & Mayer (2011:70) menggunakan istilah penyajian multimedia untuk menyebut segala penyajian yang berisi kata-kata dan gambar.
Prinsip-Prinsip Multimedia untuk Pembelajaran
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Richard E. Mayer (2001) menunjukan bahwa anak didik kita memiliki potensi belajar yang berbeda-beda. Kini dunia pendidikan makin maju, dapatkah modalitas belajar siswa yang berbeda-beda ini dibawa dalam sebuah teknologi Multimedia? Menurut Mayer ada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di Pembelajaran.
12 Prinsip Merancang Multimedia Pembelajaran, yaitu :
1)        Prinsip Multimedia
       Orang belajar lebih baik dari gambar dan kata dari pada sekedar kata-kata saja. Karena dinamakan multimedia berarti wajib mampu mengkombinasikan berbagai media (teks, gambar, grafik, audio/narasi, video, animasi, simulasi, dll) menjadi satu kesatuan yang harmonis. Sebab kalau tidak namanya bukan multimedia tapi single-media.

2)        Prinsip Kesinambungan Spasial
       Orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait disandingkan berdekatan dibandingkan apabila disandingkan berjauhan atau terpisah. Oleh karena itu, ketika ada gambar (or sodarenye nyang laen seperti video, animasi, dll) yang dilengkapi dengan teks, maka teks tersebut harus merupakan jadi satu kesatuan dari gambar tersebut, jangan menjadi sesuatu yang terpisah.
3)        Prinsip Kesinambungan Waktu
       Orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait disajikan secara simultan dibandingkan apabila disajikan bergantian atau setelahnya. Nah, ketika Anda ingin memunculkan suatu gambar dan atau animasi atau yang lain beserta teks, misalnya, sebaiknya munculkan secara bersamaan alias simultan. Jangan satu-satu, sebab akan memberikan kesan terpisah atau tidak terkait satu sama lain. Begitu kata Mayer.
4)        Prinsip Koherensi
       Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, gambar, suara, video, animasi yang tidak perlu dan tidak relevan tidak digunakan. Nah, ini yang sering terjadi. Banyak sekali pengembang media mencantumkan sesuatu yang tidak perlu. Mungkin maksudnya untuk mempercantik tampilan, memperindah suasana atau menarik perhatian mata. Tapi, menurut Mayer, hal ini sebaiknya dihindari. Cantumkan saja apa yang perlu dan relevan dengan apa yang disajikan. Jangan macam-macam.
5)        Prinsip Modalitas Belajar
       Orang belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi plus teks pada layar. Jadi, lebih baik animasi atau video plus narasi daripada sudah ada narasi ditambah pula dengan teks yang panjang. Hal ini, sangat mengganggu.
6)        Prinsip Redudansi
       Orang belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi, narasi plus teks pada layar (redundan).
       Sama dengan prinsip di atas. Jangan redudansi, kalau sudah diwakili oleh narasi dan gambar/animasi, janganlah tumpang tindih pula dengan teks yang panjang.

7)        Prinsip Personalisasi
       Orang belajar lebih baik dari teks atau kata-kata yang bersifat komunikatif (conversational) daripada kalimat yang lebih bersifat formal. Lebih baik  menggunakan kata-kata lugas dan enak daripada bahasa teoritis,  oleh karena itu, sebaiknya gunakan bahasa yang komunikatif dan sedikit ber-style.
8)        Prinsip Interaktivitas
       Orang belajar lebih baik ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya (manipulatif: simulasi, game, branching).          Sebenarnya, orang belajar itu tidak selalu linier alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat dari satu hal ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang konsisten dan jelas, bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan tingkat interaktivitas makin tinggi.
9)        Prinsip Sinyal (cue, highlight, ..)
       Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu.
10)    Prinsip Perbedaan Individu     
 prinsip tersebut berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas visual tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks dan narasi plus visual berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas auditori tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks, visual dan simulasi berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas kinestetik tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.
11) Prinsip Praktek                                
       Interaksi adalah hal terbaik untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat meningkatkan cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang sedang dipelajari.
12) Pengandaian
       Menjelaskan materi dengan audio meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi, daripada dari animasi dan teks pada layar.



Prinsip Pengembangan Multimedia Pembelajaran

Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan media pembelajaran meliputi: prinsip kesiapan dan motivasi, penggunaan alat pemusat perhatian, pengulangan, partisipasi aktif peserta didik, dan umpan balik (Abdul Gafur, 2007: 20-22).

Prinsip kesiapan dan motivasi menekankan bahwa kesiapan dan motivasi peserta didik untuk menerima informasi pembelajaran sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar mengajar. Kesiapan peserta didik mencakup kesiapan pengetahuan prasyarat, kesiapan mental, dan kesiapan fisik. Motivasi merupakan dorongan untuk melakukan atau mengikuti kegiatan belajar. Motivasi tersebut dapat berasal dari dalam diri maupun dari luar diri peserta didik  (Abdul Gafur, 2007: 20).

Penggunaan alat pemusat perhatian dalam media pembelajaran dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta didik untuk fokus terhadap materi pelajaran. Hal ini membantu konsentrasi peserta didik dalam memahami isi pelajaran sehingga penguasaan mereka menjadi lebih baik.

Informasi atau keterampilan baru jarang sekali dapat dikuasai secara maksimal hanya dengan satu kali proses belajar. Agar penguasaan terhadap informasi atau keterampilan baru tersebut dapat lebih optimal, maka perlu dilakukan bebrapa kali pengulangan. Prinsip pengulangan ini harus diperhatikan dalam mengembangkan media pembelajaran.

Proses belajar mengajar akan lebih berhasil manakala terjadi interaksi dua arah antara pengajar dan peserta didik. Partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Oleh karena itu media pembelajaran yang digunakan hendaknya mampu menimbulkan keterlibatan peserta didik secara aktif (interaktif) dalam proses belajar
Umpan balik yang diberikan oleh pengajar secara tepat dapat menjadi pendorong bagi peserta didik untuk selalu meningkatkan prestasinya. Untuk itu, pengajar harus memberikan respon umpan balik secara berkala terhadap kemajuan belajar peserta didik (Abdul Gafur, 2007: 20).

Prinsip-prinsip tersebut di atas dapat diakomodasi dalam sebuah media pembelajaran berupa multimedia pembelajaran interaktif dan web pembelajaran.

Kesimpulannya penggunaan multimedia(kombinasi antara teks, gambar, grafik, audio/narasi, animasi, simulasi, video) secara efektif untuk mengakomodir perbedaan modalitas belajar.

Permasalahan : Prinsip Koherensi, Siswa bisa belajar lebih baik ketika kata-kata, gambar, suara, video, animasi yang tidak perlu dan tidak relevan tidak digunakan. Nah, ini yang sering terjadi. Banyak sekali pengembang media mencantumkan sesuatu yang tidak perlu. Mungkin maksudnya untuk mempercantik tampilan, memperindah suasana atau menarik perhatian mata. Dan mayer juga mendukung prinsip ini, menurut Mayer, hal ini sebaiknya dihindari. mengapa demikian? 


                                                DAFTAR PUSTAKA

http://novi-ariyaniasparagus.blogspot.co.id/2013/02/prinsip-prinsip-multimedia-pembelajaran.html?m=1

http://halizaagusriyaniputri.blogspot.co.id/2017/02/prinsip-dasar-multimedia-pembelajaran.html?m=1


https://chriseldasite.wordpress.com/2017/09/01/7-prinsip-dasar-multimedia-pembelajaran/amp/

Komentar

  1. Assalamualaikum saudari zelvi, saya akan mencoba untuk menjawab permasalahan anda.

    Saya setuju dengan mayer, bahwa pendidik seharusnya menghindari penggunaan animasi, video, gambar dll secara berlebihan. Karena itu akan mengalihkan perhatian siswa.

    Memang pendidik dalam penggunaan media dituntut untuk kreatif dan membuat media itu agak siswa kita tertarik untuk belajar.

    Namun, penggunaan yang berlebihan justru membuat siswa kita tidak fokus dengan media yang kita buat.
    Ketikan kita menjelaskan materi, siswa akan memperhatikan gambar atau animasi itu dibandingkan materi nya.

    Mungkin hanya itu, kurang lebih nya saya mohon maaf.
    Wassalamualaikum. Wr.wb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi menurut anda, animasi dan vidio yang sperti apa yang menarik tapi tidak berlebihan agar tidak salah fokus?
      Kan pasti yang menarik yang membuat siswa itu lebih memperhatikan nya, memang pati siswa itu kurang fokus, tapi kan asal menyangkut materi yang dijelaskan secara tidak langsung psti siswa tesebut memperhatikan meterinya juga

      Hapus
  2. Prinsip koherensi terbagi atas tiga versi, yaitu pembelajaran siswa terganggu jika gambar-gambar menarik namun tidak relevan ditambahkan (, pembelajaran siswa terganggu jika suara dan musik menarik namun tidak relevan ditambahkan dan pembelajaran siswa akan meningkat jika kata-kata yang tidak dibutuhkan disisihkan dari presentasi multimedia
    Sedangkan Mayer mengemukakan alasan teoretis bahwa materi ekstra selalu bersaing memperebutkan sumber-sumber kognitif dalam memori kerja sehingga bisa mengalihkan perhatian siswa dari materi yang penting. Hal-hal ekstra juga bisa menganggu proses penataan materi dan bisa menggiring siswa untuk menata materi di atas landasan tema yang tidak sesuai.
    Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari pernyataan anda pembelajaran siswa terganggu jika gambar-gambar menarik namun tidak relevan ditambahkan . Bukannya yang menarik itu harus ditambahkan agar siswa itu tertarik dan ada minat untuk belajar. Nah jadi menurut anda yang menarik dan relevan untuk ditambahkan itu sperti apa?

      Hapus
  3. Saya setuju dengan pendapat mayer, karena jika terlalu banyak animasi gambar atau yang lainnya pada media pembelajaran yang digunakan sedangkan hal itu tidak berhubungan dengan materi maka akan dapat merusak perhatian siswa. Sehingga siswa tidak memperhatiakn materi tapi hanya memperhatiakn gambar dan animasi. Jadi sebaiknya penggunaan gambar dan animasi pada media sebaiknya hal-hal yang berhubungan saja yang dapat memperjelas dari suatu konsep materi seperti grafik yang menarik(berwarna) atau gambar-gambar yang menunjang materi sehingga siswa juga tidak bosan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Membuat sebuah yang menarik yang menunjang dan memperjelas materi sperti yang anda jelaskan berarti kan memang harus menarik agar siswa tidak bosan, nah yang membuat menarik itu kan biasanya dalam bentuk animasi itu yang membuat siswa tertarik kalau sperti grafik hanya berwarna saja siswa akan tetap bosan tidak ada yang menarik dari itu walaupun sudah berwarna

      Hapus
  4. Prinsip koherensi menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika hal-hal ekstra disisihkan dari sajian multimedia (Mayer, 2009:167). Prinsip koherensi terbagi atas tiga versi, yaitu pembelajaran siswa terganggu jika gambar-gambar menarik namun tidak relevan ditambahkan (Mayer, 2009:170; Clark & Mayer, 2011:159), pembelajaran siswa terganggu jika suara dan musik menarik namun tidak relevan ditambahkan (Mayer, 2009:181; Clark & Mayer, 2011:153), dan pembelajaran siswa akan meningkat jika kata-kata yang tidak dibutuhkan disisihkan dari presentasi multimedia (Mayer 2009:188; Clark & Mayer, 2011:166).

    Mayer (2009:167) mengemukakan alasan teoretis bahwa materi ekstra selalu bersaing memperebutkan sumber-sumber kognitif dalam memori kerja sehingga bisa mengalihkan perhatian siswa dari materi yang penting. Hal-hal ekstra juga bisa menganggu proses penataan materi dan bisa menggiring siswa untuk menata materi di atas landasan tema yang tidak sesuai.

    sebenarnya boleh saja untuk memperindah tetapi asalkan tidak mengganggu , karena tetrlalu banyak animasi animasi , mungkin banyak siswa yang tidak akan fokus pada materi yang dijelaskan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baiklah terimakasih atas komentar anda, iya saya memang tidak akan banyak animasi nya, maksud saya kan pasti dengan animasi itu akan jadi lebih menarik , dan animasi yang disampaikan itu tidak berlebihan tapi tetap siswa pasti akan salah fokus karena memperhatikan animasi nya, tapi kn kalau animasi yang ditampilkan sesuai sengan materi pasti secara tidak langsung soswa juga akan menyerap materi tersebut

      Hapus
  5. Karena hal tersebut akan membuat siswa jadi salah fokus. Seharusnya ia memperhatikan materi malah sibuk mengomentari gambar-gambar yang tidak ada kaitan nya misalnya dalam ppt yang di sisipkan oleh guru d pptnya. Jadi sebaiknya hal tersebut dihindari. Berdasarkan pengertian tentang efektivitas dan pembelajaran di atas maka dapat diatakan bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat memanfaatkan segala potensi sebagai pengukur terhadap keberhasilan siswa setelah mempelajari suatu materi pelajaran.

    Unsur yang dominan dalam proses pembelajaran, menurut Abdul Majid (2008: 91) adalah guru, murid, dan bahan ajar. Ketiga unsur ini saling berkaitan, mempengaruhi serta tunjang menunjang antara satu dengan lainnya. Jika salah satu unsur tidak ada, maka proses pembelajaran tidak akan berlangsung dengan baik. Jika dilihat dari segi kegiatan guru, maka guru berfungsi sebagai pembuat keputusan yang berhubungan dengan perencanaan, implementasi, dan penilaian / evaluasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tidak mungkin seorang guru memasukkan gambar di ppt nya tidak sesuai dengan materinya, pasti gambar yang ditampilkan oleh gurunya itu berhubungan dengan materi yang disampaikan

      Hapus
  6. Menurut saya terlalu banyak menambahkan visualisasi yg berlebihan dan tak berkenaan dengan konten akan menimbulkan salah fokus pada anak. Bisa jadi fokus anak bukan lagi pada materi melainkan visualisasi yang tidak bermakna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak mungkin seorang guru memasukkan visualisasi tidak berkenaan dengan lonten yang diajarkan, tentunya sesuai dengan yang diajarkan, nah jadikan siswa memperhatikan visualisasi tersebut karena terlihat menarik tapi kan tetap berkaitan dengan materi, jadi kan secara tidak langsung siswa juga bisa menganalisa nya

      Hapus
  7. Saya setuju dengan mayer, bahwa pendidik seharusnya menghindari penggunaan animasi, video, gambar dll secara berlebihan. Karena itu akan mengalihkan perhatian siswa.
    Jadi sebaiknya penggunaan gambar dan animasi pada media sebaiknya hal-hal yang berhubungan saja yang dapat memperjelas dari suatu konsep materi seperti grafik yang menarik(berwarna) atau gambar-gambar yang menunjang materi sehingga siswa juga tidak bosan
    Memang pendidik dalam penggunaan media dituntut untuk kreatif dan membuat media itu agak siswa kita tertarik untuk belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pastinya seorang guru memasukkan seuatu yang menarik dikonten yang ia ajarkan tapi tetap berhubungan dengan materi yang disampaikan, karena kan tidak mungkin guru menjerumuskan siswanya kepada sesuatu yang membuat mereka tidak fokus dan menjadi bodoh

      Hapus
  8. Menurut saya mayer berkata seperti itu karena jika terlalu banyak gambar atau warna dalam ppt misalnya maka anak didik tidak akan fokus dengan materi yang dipelajari melainnkan dengan warna atau animasi2 yang ditampilkan. Sekian pendapat dari saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tapi kan tujuan adanya animasi dannkonten2 itu agar siswa tidak bosan, tentu yang disajikan itu berkaitan dengan materi jadi secara tidak langsung siswa juga bisa memperhatikan materi yang diajarkan

      Hapus
    2. Iya tapi kan tujuan adanya animasi dannkonten2 itu agar siswa tidak bosan, tentu yang disajikan itu berkaitan dengan materi jadi secara tidak langsung siswa juga bisa memperhatikan materi yang diajarkan

      Hapus
  9. baik saya akan mencoba menjawab permasalahan anda. menurut saya kenapa power point itu tidak disaran kan terlalu banyak menggunakan aplikasi atau gambar itu dikarenakan, apabila telalu banyak menggunakan itu dapat membuat siswa tidak fokus pada materi pembelajaran nya. tetapi hanya fokus pada animasinya, nah itulah kenapa tidak disarankan menggunakan aplikasi terlalu banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih jawaban anda, jadi konten2 yang dimasukkan itu juga harus sesuai materi tidak mungkin seorang guru memasukkan konten2 yang tidak relevan untuk diajarkan kepada siswanya

      Hapus
    2. Terimakasih jawaban anda, jadi konten2 yang dimasukkan itu juga harus sesuai materi tidak mungkin seorang guru memasukkan konten2 yang tidak relevan untuk diajarkan kepada siswanya

      Hapus
  10. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda, bagian multimedia yang telah disajikan perlu direvisi kembali dan dipadukan dalam materi pelajaran.
    Pemberian warna, gambar, video, dll perlu disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa agar tidak hanya sekedar menonton apa yg disajikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi menurut anda itu bagaimana? Jadi boleh saja menyajikan konten2 yang berlebihan tetapi harus sesuai dengan tingkat pemahaman siswa bukan berkaitan dengan materi yang disampaikan?

      Hapus
    2. Jadi menurut anda itu bagaimana? Jadi boleh saja menyajikan konten2 yang berlebihan tetapi harus sesuai dengan tingkat pemahaman siswa bukan berkaitan dengan materi yang disampaikan?

      Hapus
  11. sebaiknya penggunaan gambar dan animasi pada media sebaiknya hal-hal yang berhubungan saja yang dapat memperjelas dari suatu konsep materi seperti grafik yang menarik(berwarna) atau gambar-gambar yang menunjang materi sehingga siswa juga tidak bosan

    BalasHapus
  12. karena mencantumkan sesuatu yang tidak diperlukan adalah suatu kesiasian. kita seharusnya membuat media yang sederhana dan mudah dipahami karna prinseip dari media pembelajaran adalah membantu siswa lebih mudah dalam memahami pelajaran.

    BalasHapus
  13. Mayer (2009:93) beralasan bahwa saat kata-kata dan gambar-gambar disajikan secara bersamaan, siswa punya kesempatan untuk mengkonstruksi model-model mental verbal dan piktorial dan membangun hubungan di antara keduanya. Sedangkan jika hanya kata-kata yang disajikan, maka siswa hanya mempunyai kesempatan kecil untuk membangun model mental piktorial dan kecil pulalah kemungkinannya untuk membangun hubungan di antara model mental verbal dan piktorial.

    Menurut saya karna akan menyebabkan hilang nyo fokus siswa terhadap materi pembelajaran

    BalasHapus
  14. Saya setuju dengan pendapat tersebut karena dengan dicantumkannya hal-hal yang tidak perlu itu akan membuat peserta didik bingung. Jadi sebaiknya digunakan hal-hal yang penting saja, yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

    BalasHapus
  15. Menurut saya, kalau misal yang digunakan itu berupa gambar gambar yang memang fungsinya untuk mempercantik itu perlu juga dibuat. Karna agar video atau animasi yang kita buat tambah cantik. Tapi jika gambar gambar yang ditampilkan terlalu banyak sebaiknya jangan. Karna itu terkesan jelek.

    BalasHapus

Posting Komentar