Landasan Teoritis Multimedia Pembelajaran

  1. Landasan Teoritis Media Pembelajaran
Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat si penerima pesan. Di dalam proses penyampaian informasi ini dengan menggunakan saluran (media) maka komunikan akan menerima informasi/pesan tersebut melalui kelima panca inderanya (penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecap).
 Dalam proses pembelajaran, media memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran.Penggunaan media pembelajaran dapat membantu meningkatkan pemahaman dan daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajari. Maka dapat diambil kesimpulan.manfaat dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar dapat mengarahkan perhatian siswa sehingga menimbulkan motivasi untuk belajardan materi yang diajarkan akan lebih jelas, cepat dipahami sehinggadapat meningkatkan prestasi siswa. Penggunaan media dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas prestasi belajar. Diharapkan proses pembelajaran menjadi efektif, interaktif, dan efisien.
           Media pembelajaran sebagai alat penunjang untuk mencapai tujuan pembelajaran maksimal, memiliki beberapa ciri. Ciri media pembelajaran yang dimaksud adalah hal melekat dalam sebuah media, sehingga layak atau patut digunakan sebagai media. Gerlach dan Ely mengemukakan tiga ciri media pembelajaran, yaitu:
1. Ciri Fixative
Ciri ini menggambarkan kemampuan media pembelajaran merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek.
2. Ciri Manipulatif
Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada peserta didik dalam waktu dua atau tiga menit, misalnya bagaimana proses metamorfosis kupu-kupu dapat dipercepat dengan teknik rekaman fotografi. Disamping dapat dipercepat, suatu kejadian dapat pula diperlambat pada saat menayangkan kembali hasil suatu rekaman video.
3. Ciri Distributif
Ciri distributif media pembelajaran memungkinkan suatu obyek/ kejadian ditransportasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar peserta didik dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu.
Ada beberapa tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran, antara lain landasan filosofis, psikologis, teknologis, dan empiris.
  1. Landasan filosofis. Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Akan tetapi, siswa dihargai harkat kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga diri,motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain, maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
  2. Landasan psikologis. Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Untuk maksud tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, (2) bahan pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa. Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan kontinum konkrit-abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran, ada beberapa pendapat.
  • Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film (iconic representation of experiment) kemudian ke belajar dengan simbul, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation). Menurut Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang dewasa.
  • Kedua, Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
  • Ketiga, Edgar Dale, membuat jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan simbol.
Salah satu gambaran yang paling banyak digunakan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam pembelajaran adalah kerucut pengalaman Dale (Dale’s Cone of Experience).
Dalam proses pembelajaran, media memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran. Kerucut pengalaman Dale diatas mengklasifikasikan media berdasarkan pengalaman belajar yang akan diperoleh oleh peserta didik, mulai dari pengalaman belajar langsung, pengalaman belajar yang dapat dicapai melalui gambar, dan pengalaman belajar yang bersifat abstrak. Materi yang ingin disampaikan dan diinginkan peserta didik dapat menguasainya disebut sebagai pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan pesan-pesan dalam simbol-simbol tertentu (encoding) dan peserta didik sebagai penerima menafsirkan simbol-simbol tersebut sehingga dipahami sebagai pesan (decoding).
  1. Landasan teknologis. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi komunikasi dan informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat untuk selanjutnya berpengaruh terhadap pola komunikasi di masyarakat. Tuntutan masyarakat yang semakin besar terhadap pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat pendidikan tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan pola tradisional, karena cara ini tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.  Hasil teknologi telah sejak lama dimanfaatkan dalam pendidikan. Banyak yang dharapkan dari alat- alat teknologi pendidikan yang membantu mengatasi berbagai masalah  pendidikan sehingga dapat membantu siswa belajar secara individual dengan efektif dan efisien.
    Dalam konteks pendidikan yang lebih umum, ataupun hanya proses belajar mengajar, teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan, dan penilaian sistem , teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia. Dengan demikian, aspek- aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan perangkat lunaknya atau software.
    Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan karakteristiknya.
    Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
  2. Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more productive). Dengan media dapat meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan jalan mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
  3. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual).Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain dalam variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.
  4. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give instruction a more scientific base). Artinya perencanaan program pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa, karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan disaign pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
  5. Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
    Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
  6. Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more immediate). Karena media mengatasi jurang pemisah antara peserta didik dan sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekonkritan” meskipun tidak secara langsung.
  7. Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal)[1].
  8. Landasan empiris. Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
Permasalahan : sebenarnya kan penggunaan media dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas prestasi belajar. Diharapkan proses pembelajaran menjadi efektif, interaktif, dan efisien. Tapi masih banyak penggunaan media dalam pembelajaran tidak sesuai yang diharapkan . Mengapa demikian?


                                                     DAFTAR PUSTAKA 
http://mellapuspita17.blogspot.co.id/2017/02/landasan-teoritis-multimedia.html?m=1

http://aripristiantonugroho.blogspot.co.id/2015/04/pengertian-media-landasan-teoritis-dan.html?m=1

https://jailanikhairal.wordpress.com/2015/03/25/makalah-landasan-teoritis-media-pembelajaran-dan-ciri-ciri-media-pembelajaran/amp/

Komentar

  1. Assalamualaikum saudari zelvi, saya akan mencoba untuk menjawab permasalahan anda.

    Mengapa masih banyak siswa yang tidak mengerti padahal pendidik sudah menggunakan media dalam proses belajar. Menurut saya ada beberapa alasan.
    1. Pendidik dalam membuat media tidak sesuai dengan tujuan yang akan di tuju.

    2. Pendidik dalam membuat media tidak mempunyai ke kreatifan sehingga siswa pun tidak tertarik walaupun sudah menggunakan media pembelajaran.

    3. Pendidik tidak tahu prinsip prinsip dasar sebelum menggunakan media pembelajaran.

    Disini saya akan menjelaskan lebih lanjut.
    PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN

    Berdasarkan ketersediaannya media dapat dikelompokkan menjadi Media Jadi (Media By Utilization) dan Media Rancangan (Media By Design) alasan utama seseorang menggunakan media adalah media dapat berbuat lebih dari biasa yang dilakukan. Pemilihan media dilakukan agar penggunaan media dapat mencapai tujuan pembelajaran, maka haruslah dipilih media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

    Kriteria Dalam Pemilihan Media Pembelajaran

    Dalam lembaga pendidikan formal, berbagai media pendidikan dapat digunakan sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar, baik media jadi yang dibeli dari toko/pasar bebas maupun media yang dibuat sendiri, ataupun media yang disiapkan dan dikembangkan oleh sekolah sendiri.

    Dalam hal ini guru haruslah pandai dalam memilih media apa yang sesuai dan cocok digunakan untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Untuk itu beberapa faktor dan kriteria yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menggunakan media, diantaranya :

    1. Faktor tujuan.

    Media dipilih dan digunakan haruslah sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan/ dirumuskan

    2. Faktor Efektifitas.

    Dari berbagai media yang ada, haruslah dipilih media yang paling efektif untuk digunakan dan paling tepat/sesuai dengan tujuan pembelajaran yang dirumuskan

    3. Faktor kemampuan guru dan siswa.

    Media yang dipilih dan digunakan haruslah sesuai dengan kemampuan yang ada pada guru dan siswa, sesuai dengan pola belajar serta menarik perhatian

    4. Faktor fleksibilitas (Kelenturan), tahan lama dengan kenyataan.

    Dalam memilih media haruslah dipertimbangkan kelenturan dalam arti dapat digunakan dalam berbagai situasi, tahan lama (tidak sekali pakai langsung dibuang), menghemat biaya dan tidak berbahaya sewaktu digunakan.

    5. Faktor kesediaan media.

    Sekolah tidak sama dalam menyediakan berbagai media yang dibutuhkan untuk kegiatan belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing sekolah. Misalnya guru membuat sensiri, membuat bersama-sama siswa, membeli, menyewa, dll

    6. Faktor kesesuaian antara manfaat dan biaya.

    Dalam memilih media haruslah dipertimbangkan apakah biaya pengadaannya sesuai dengan manfaat yang didapatkan

    7. Faktor kualitas dan tehnik.

    Dalam pengadaan media, seorang guru harus mempertimbangkan kualitas dari media tersebut, tidak sekedar bisa dipakai. Media yang bernutu/berkualitas bisa tahan lama (tidak mudah rusak), dan sewaktu-waktu digunakan lagi tidak harus mengusahakan yang baru.

    8. Objektifitas.

    Metode dipilih bukan atas kesenangan atau kebutuhan guru, melainkan keperluan sistem belajar. Karena itu perlu masukan dari siswa.

    9. Program pengajaran

    Program pengajaran yang akan disampaikan kepada anak didik harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku, baik menyangkut isi, struktur maupun kedalaman.

    10. Sasaran program

    Media yang akan digunakan harus dilihat kesesuaiannya dengan tingkat pekembangan anak didik, baik dari segi bahasa, simbol-simbol yang digunakan, cara dan kecepatan maupun waktu penggunaannya.



    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi disini menurut anda itu kesalahan dari penddiknya? Bukan dari siswanya? Kalau menurut saya tidak mungkin seorang pendidik membuat media tidak menyesuaikan dengan tujuan yang ada, pasti disesuaikan, menurut saya itu siswanya karena mungkin tidak ada kemauan untuk lebih baik lagi dalam belajar

      Hapus
  2. Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran. Sebagai komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan proses pembelajaran secara menyeluruh. Ujung akhir dari pemilihan media adalah penggunaaan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran, sehingga memungkinkan siswa dapat berinteraksi dengan media yang kita pilih.
    Dan kenapa media yang digunakan masih belum bisa meningkatkan prestasi siswa, itu dapat disebabkan oleh beberapa faktor baik dari guru, siswa maupun kesesuaian media yang digunakan dengan materi yang diajar.
    Dari segi guru, tidak semua guru dapat menggunakan media yang dipilihnya itu dengan baik, sehingga penerapan media tersebut yang seharusnya dapat membantu siswa memahami pelajaran jadi malah bingung.
    Siswa, tidak semua siswa dapat mengerti dari media yang digunakan dan juga tertarik untuk memperhatikan.
    Kesesuaian media yang digunakan dengan materi ajar, dalam hal ini bagi guru yang masih kurang paham prinsip dan penggunaan multimedia pembelajaran maka akan menyebabkan bahwa media yang digunakan tidak sesuai dengan materi tersebut sehingga konsep materinya akan kacau dan membuat bingung. Karena Faktor-faktor diataslah sehingga tujuan multimedia untuk meningkatkan prestasi siswa jadi tidak terlaksana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi disini menurut anda baik guru maupun siswa mempunyai peran yang sama dalam mencapai suatu keberhasilan hasil belajar dengan media yang digunakan?

      Hapus
  3. Assalamualaikum saudari zelvi saya ingin sedikit memberikan pendapat saya terkait dengan permasalahan yang anda munculkan yaitu kenapa penggunaan media pembelajaran belum efisien dan tidak sesuai dengan yang diharapkan hal ini dapat terjadi bisa diakibatkan oleh guru yang tidak menerapkan proses belajar tersebut dengan baik ada banyak alasan kenapa guru kurang memnfaatkan mefia pembelajaran karena media itu barang canggih dan mahal Jadi banyak modal yang harus dipersiapkan. tidak bisa atau takut menggunakan (gagap teknologi). Karena tidak semua pendidik pandai dalam menggunakan teknologi yang berkemabang sekarang ini. Keempat, sarana yang tidak tersedia disekolah sehingga guru tambahn malas untuk mengggunakan multimedia tersebut. Kemudia guru lebih suka memilih metode ceramah karena tampa modal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya inggin mengkritik sedikit menurut saya tidak mungkin seorang guru tidak mempunyai modal dalam mengajar, pasti dia sudah mempunyai sedikit modal sebelum masuk kelas walaupun hanya sedikit, metode ceramah itu juga perlu modal juga perlu keberanian untuk berbicara didepan orang banyak

      Hapus
  4. assalamualaikum , menurut saya Pengajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang baik. Media yang akan digunakan dalam proses pengajaran itu juga memerlukan perencanaan yang baik. Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukan bahwa seorang guru memilih salah satu media dalam kegiatannya di kelas atas dasar pertimbangan . pertimbangan ini diharapkan oleh guru dapat memenuhi kebutuhannya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Heinich dan kawan-kawan (1982) mengajukan model perencanaan penggunaan media yang efektif yang dikenal dengan istilah ASSURE (analyze learner characteristics,state objective, select, or modifymedia, require learner response and evaluate).

    Dalam kenyataannya yang terjadi pada guru dan siswa di sekolah dasar saat ini tidak sesuai dengan yang di harapkan. Guru dituntut agar dapat menggunakan media dan menampilkan proses pembelajaran yang baik tetapi dalam keadaannya guru belum bisa menampilkan media pembelajaran dengan yang di harapkan. Kualitas guru yang berkesinambungan dengan proses pembelajaran dalam mengguanakan media sebagai alat belajar hanya sekian % dan sisanya hanya menggunakan media alat untuk proses belajar mengajar sealakadarnya saja tanpa memperhatiakan kualitas media pembelajaran yang dapat membatu proses pembelajaran secara efektif dan efisien . Faktanya fasilitas yang ada di sekolah yang bisa mendukung proses pembelajaran lebih sering disimpan dengan berbagai alasan dari pihak yang berkuasa di sekolah. Sehingga kualitas pembelajaran dengan media sangat minim pada keadaan sebenarnya.

    Dengan adanya Media Pembelajaran yang berkualitas seiring dengan perkembangan IPTEK dapat mengatasi masalah keterbatasan indera, ruang dan waktu sehingga proses belajar mengajar lebih memudahkan guru dalam menyampaikan materi. Penggunaan media tersebut akan berbanding lurus dengan pencapaian pembelajaran yang efektif dan efisien, dengan di tampilkan obyek seperti video gunung meletus, tanpa kita membawa siswa pada situasi yang sebenarnya terjadi pada aslinya tetapi siswa dapat memahami dengan video tersebut. Dengan kemajuan IPTEK yang terjadi di media baik dari media pembelajaran pada era sekarang maka seharusnya proses pembelajaran haruslah bisa efektif dan efisien.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi menurut anda media yang baik dan cara yang pas untuk seorang guru saat mengajar itu bagaimana?

      Hapus
  5. Hal tersebut dapat terjadi karena perencanaan pembelajaran yang belum siap dan penggunaan media yang belum begitu di kuasai.
    Berdasarkan pengertian tentang efektivitas dan pembelajaran di atas maka dapat diatakan bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat memanfaatkan segala potensi sebagai pengukur terhadap keberhasilan siswa setelah mempelajari suatu materi pelajaran.

    Unsur yang dominan dalam proses pembelajaran, menurut Abdul Majid (2008: 91) adalah guru, murid, dan bahan ajar. Ketiga unsur ini saling berkaitan, mempengaruhi serta tunjang menunjang antara satu dengan lainnya. Jika salah satu unsur tidak ada, maka proses pembelajaran tidak akan berlangsung dengan baik. Jika dilihat dari segi kegiatan guru, maka guru berfungsi sebagai pembuat keputusan yang berhubungan dengan perencanaan, implementasi, dan penilaian / evaluasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi ketika salah satu unsur tadi itu bisa dicapai misalnya penggunaan media yang baik dan tepat tadi kan itu termasuk kedalam bahan ajar juga bukan? Nah itu hasil yang didapat tidak akan maksimal ya?

      Hapus
  6. Penggunaan media pembelajaran adalah suatu hal yang penting dilakukan seorang guru untuk memudahkan siswa dalam menerima materi yang disampaikan guru, akan tetapi pada kenyataannya tidak semua media dapat sepenuhnya efektif digunakan untuk menyampaikan materi kepada siswa. Untuk itu, diharapkan sebelum menggunakan atau membuat suatu media, seorang guru perlu memperhatikan keefektifan media tersebut dalam proses pembelajaran, agar pembelajaran yang akan dilakukan bisa berjalan dengan maksimal.
    Khususnya untuk anak tingkat sekolah dasar, media yang di buat harus seefektif mungkin, karena mereka masih pada tahap perkembangan operasional konkrit. Segala sesuatu yang mereka terima harus bisa dikaitkan dengan dunia nyata, nah oleh karena itu, keefektifan suatu media menjadi tolak ukur yang penting bagi keberhasilan belajar mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari segi apa kita melihat media yang digunakan itu dikatakan efektif?

      Hapus
    2. Dari segi apa kita melihat media yang digunakan itu dikatakan efektif?

      Hapus
  7. assalamualaikum , menurut saya Pengajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang baik. Media yang akan digunakan dalam proses pengajaran itu juga memerlukan perencanaan yang baik. Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukan bahwa seorang guru memilih salah satu media dalam kegiatannya di kelas atas dasar pertimbangan . pertimbangan ini diharapkan oleh guru dapat memenuhi kebutuhannya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau hanya sekedar perencanaan menurut saya itu tidak bisa dikatakan efektif tentu harus kita lakukan tindakan, setelah itu baru dievaluasi

      Hapus
  8. Menurut saya dalam mencapai proses belajar yang efektif antara guru dan siswa harus saling bekerjasama artinya guru memberikan materi baik melalui media apapun dan siswa menerimanya dengan baik dengan belajar dengan baik apa yang diberikan oleh gurunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah jika salah satu nya tidak tercapai bagaimana? Kita tau kan siswa sekarang jarang sekali yang mebeerikan respon mereka kadang hanya sekedar datang dan tidak peduli apabyamg dijelaskan gurunya

      Hapus
    2. Nah jika salah satu nya tidak tercapai bagaimana? Kita tau kan siswa sekarang jarang sekali yang mebeerikan respon mereka kadang hanya sekedar datang dan tidak peduli apabyamg dijelaskan gurunya

      Hapus
  9. baik saya akan mencoba menjawab, menurut saya kenapa banyak yang menggunakan media tapi tidak efektif, itu dikarenakan media yang dibuat banyak yang mengandung unsur-unsur yang tidak sesuai dengan meteri atau banyak animasi-animasi yang tidak diperlukan dalam materi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak mungkin seorang guru membuat sebuah media tidak sesuai materi, pasti disesuaikan,

      Hapus
  10. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda. Ada beberapa faktor yang menghambat perkembangan kemampuan seseorang untuk menggunakan media pembelajan, yaitu:

    a) Asumsi bahwa menggunakan media itu repot.

    b) Menganggap media itu canggih dan mahal.

    c) Tidak bisa menggunakan media yang ada.

    d) Asumsi bahwa media itu hiburan, memperkecil kemungkinan anak tetap konsentrasi terhadap pelajarannya.

    e) Tidak tersedianya media pembelajaran visual.

    f) Kebiasaan menikmati ceramah/bicara tanpa media visual.

    Jadi, seseorang yang paling tepat untuk menggunakan media pembelajaran visual adalah seseorang yang tidak memiliki sifat menghambat seperti yang disebutkan diatas.Media ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip, slides, foto, gambar atau lukisan, dan cetakan. Ada pula yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, dan film kartun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf disini permasalahan saya itu mencakup kepada semua media bukan hanya media visual saja, jadi kalau hanya visual menurut saya jawaban anda tidak sesuai dengan permasalahan saya

      Hapus
    2. Maaf disini permasalahan saya itu mencakup kepada semua media bukan hanya media visual saja, jadi kalau hanya visual menurut saya jawaban anda tidak sesuai dengan permasalahan saya

      Hapus
  11. Media yang akan digunakan dalam proses pengajaran itu juga memerlukan perencanaan yang baik. Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukan bahwa seorang guru memilih salah satu media dalam kegiatannya di kelas atas dasar pertimbangan . pertimbangan ini diharapkan oleh guru dapat memenuhi kebutuhannya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Heinich dan kawan-kawan (1982) mengajukan model perencanaan penggunaan media yang efektif yang dikenal dengan istilah ASSURE (analyze learner characteristics,state objective, select, or modifymedia, require learner response and evaluate).

    BalasHapus
  12. Karena kurang nya pengetahuan guru terhadap teknologi terkini dan sejatinya setiap model itu tidak ada yg sempurna semunya memiliki kelbihan dan kekurangan

    BalasHapus
  13. Menurut saya karna terkadang guru dalam memanfaatkan multimedia tidak pada tempatnya. Misal, dalam pelajaran itu banyak menggunakan hitung hitungan. Namun dalam multimedia yang dipakai multimedia yang seperti ppt maupun video. Yang sebaiknya kalau hitung hitungan itu langsung di praktekkan langsung.

    BalasHapus

Posting Komentar